Kerajaan Medang (Mataram Kuno)
|
Medaŋg
|
||||||||||||
|
||||||||||||
|
Kerajaan Medang pada Periode Jawa Tengah
dan Jawa Timur
|
||||||||||||
|
Ibu kota
|
Jawa Tengah: Medaŋg i Bumi Mataram (lokasi tepat tidak diketahui,
diperkirakan di sekitar Yogyakarta dan Prambanan), kemudian pindah ke Poh
Pitu dan Mamrati
Jawa Timur: Mdaŋ i Tamwlaŋ dan Mdaŋ i Watugaluh (dekat Jombang), kemudian
pindah ke Mdaŋ i Wwatan (dekat Madiun)
|
|||||||||||
|
Bahasa
|
Jawa Kuno, Sanskerta
|
|||||||||||
|
Agama
|
Kejawen, Hindu, Buddha, Animisme
|
|||||||||||
|
Bentuk pemerintahan
|
Monarki
|
|||||||||||
|
Raja
|
||||||||||||
|
-
|
732—760
|
Sri Sanjaya
|
||||||||||
|
-
|
985—1006
|
Dharmawangsa Teguh
|
||||||||||
|
Sejarah
|
||||||||||||
|
-
|
Sri Sanjayamendirikan Wangsa Sanjaya (Prasasti Canggal)
|
752
|
||||||||||
|
-
|
Kekalahan Dharmawangsa dari Wurawari dan Sriwijaya
|
1045
|
||||||||||
|
Mata uang
|
Masa dan Tahil (koin emas dan perak lokal)
|
|||||||||||
|
||||||||||||
Nama Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan
Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri
di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa
Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan
bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik
yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya
runtuh pada awal abad ke-11.
Pada umumnya, istilah
Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja,
padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama
"Medang" sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode
Jawa Tengah.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode
Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada
salah satu daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya
dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16,
Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan
nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.
Pusat Kerajaan Medang
Letak Mataram Kuno
periode Jawa Tengah.
Pusat Kerajaan Medang
periode Jawa Timur.
"Bhumi
Mataram" adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan
sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang
diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan
dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti
Anjuk ladang. Istilah "Mataram" kemudian lazim dipakai untuk menyebut
nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini
berpusat di sana.
Sebenarnya, pusat
Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke
daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi
lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara
lain,
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
·
Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
·
Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
·
Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Menurut perkiraan,
Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu
diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang
disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh.
Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu watan,
sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.
Awal berdirinya kerajaan
Prasasti Mantyasih tahun 907 atas
nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama
Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai
Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Sanjaya sendiri
mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut
dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang
memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal
Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas
dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara perempuan Sanna.
Sanna, juga dikenal
dengan nama "Sena" atau "Bratasenawa",merupakan
raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M). Bratasenawa alias
Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu
Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta
perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja
pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah
menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik
Sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi
menantunya.
Sanjaya, anak Sannaha
saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora.
Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat
Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas
nama isterinya. Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuhdan
Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun
732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia
meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara
puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi
kekuasaan Tamperan, sedangkan
Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru
Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Kisah hidup Sanjaya
secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang
baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.
Dinasti yang berkuasa
Bukti terawal sistem
mata uang di Jawa.
Emas atau keping tahil Jawa, sekitar abad
ke-9.
Pada umumnya para
sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang,
yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendrapada periode
Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.
Istilah Wangsa Sanjaya
merujuk pada nama raja pertama Medang, yaitu Sanjaya. Dinasti ini menganut
agama Hindu aliran Siwa. Menurut teori van Naerssen, pada masa
pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar
tahun 770-an), kekuasaan atas Medang direbut oleh Wangsa Sailendra yang
beragama Buddha Mahayana.
Mulai saat itu Wangsa
Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan
Sriwijaya di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, sekitar
tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai
Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa
Sailendra. Berkat perkawinan itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan
istananya ke Mamrati. Peristiwa tersebut dianggap sebagai awal kebangkitan
kembali Wangsa Sanjaya.
Menurut teori Bosch,
nama raja-raja Medang dalam Prasasti Mantyasih dianggap sebagai
anggota Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Sementara itu Slamet
Muljana berpendapat bahwa daftar tersebut adalah daftar raja-raja yang
pernah berkuasa di Medang, dan bukan daftar silsilah keturunan Sanjaya.
Contoh yang diajukan
Slamet Muljana adalah Rakai Panangkaran yang diyakininya bukan putra Sanjaya.
Alasannya ialah, prasasti Kalasan tahun 778 memuji Rakai
Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka).
Dengan demikian pendapat ini menolak teori van Naerssen tentang kekalahan Rakai
Panangkaran oleh seorang raja Sailendra.
Menurut teori Slamet
Muljana, raja-raja Medang versi Prasasti Mantyasih mulai dari Rakai Panangkaran sampai
dengan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Sedangkan
kebangkitan Wangsa Sanjaya baru dimulai sejak Rakai Pikatan naik takhta
menggantikan Rakai Garung.
Istilah Rakai pada
zaman Medang identik dengan Bhre pada zaman Majapahit,
yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan
“Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu
Dyah Pancapana.
Slamet Muljana kemudian
mengidentifikasi Rakai Panunggalan sampai Rakai Garung dengan
nama-nama raja Wangsa Sailendra yang telah diketahui, misalnya Dharanindraataupun Samaratungga.
yang selama ini cenderung dianggap bukan bagian dari daftar para raja versi
Prasasti Mantyasih.
Sementara itu, dinasti
ketiga yang berkuasa di Medang adalah Wangsa Isana yang baru muncul
pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini didirikan oleh Mpu
Sindok yang membangun istana baru di Tamwlang sekitar tahun 929.
Dalam prasasti-prasastinya, Mpu Sindok menyebut dengan tegas bahwa kerajaannya
adalah kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.
Daftar raja-raja Medang
Apabila
teori Slamet Muljana benar, maka daftar raja-raja Medang sejak masih
berpusat di Bhumi Mataram sampai berakhir di Wwatan dapat disusun secara
lengkap sebagai berikut:
Candi
Prambanan dari abad ke-9, terletak di Prambanan, Yogyakarta,
dibangun antara masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Dyah
Balitung.\
1. Sanjaya, pendiri
Kerajaan Medang
2. Rakai Panangkaran, awal
berkuasanya Wangsa Syailendra
3. Rakai
Panunggalan alias Dharanindra
4. Rakai
Warak alias Samaragrawira
5. Rakai
Garung alias Samaratungga
6. Rakai
Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
7. Rakai
Kayuwangi alias Dyah Lokapala
8. Rakai Watuhumalang
9. Rakai Watukura Dyah
Balitung
10. Mpu Daksa
11. Rakai Layang Dyah
Tulodong
12. Rakai Sumba Dyah Wawa
13. Mpu Sindok, awal periode
Jawa Timur
14. Sri Lokapala suami Sri
Isanatunggawijaya
15. Makuthawangsawardhana
16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan
Medang berakhir
Pada daftar di atas
hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja
sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja.
Struktur pemerintahan
Raja merupakan pemimpin
tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai
gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik
dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang
berarti "pemimpin". Keduanya merupakan gelar asli Indonesia.
Ketika Rakai
Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya
dan diganti dengan gelar Sri Maharaja. Kasus yang sama terjadi
pada Kerajaan Sriwijaya di mana raja-rajanya semula bergelar Dapunta
Hyang, dan setelah dikuasai Wangsa Sailendra juga berubah menjadi Sri
Maharaja.
Pemakaian gelar Sri
Maharaja di Kerajaan Medang tetap dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa
Sanjaya berkuasa kembali. Hal ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja
versi Prasasti Mantyasih yang menyebutkan hanya Sanjaya yang
bergelar Sang Ratu.
Jabatan tertinggi
sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang
ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau
saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya.
Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada
masa pemerintahan Dyah Wawa.
Jabatan Rakryan
Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada
zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun
tidak berhak untuk naik takhta.
Jabatan sesudah Mahamantri
i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri
i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya
sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih
ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri
Bawang.
Jabatan tertinggi di
Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana
perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang atau setara
dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Jabatan Rakryan
Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara
dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.
Keadaan penduduk
Temuan Wonoboyo berupa
artifak emas menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.
Penduduk Medang sejak
periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja
sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris,
sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara
maritim.
Agama resmi Kerajaan Medang
pada masa
pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa.
Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti
menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai
Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha
tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi.
Konflik takhta periode Jawa Tengah
Pada masa
pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai
Pikatan (sekitar 856 – 880–an), ditemukan beberapa prasasti
atas nama raja-raja lain, yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai
Limus Dyah Dewendra. Hal ini menunjukkan kalau pada saat itu Rakai Kayuwangi
bukanlah satu-satunya maharaja di Pulau Jawa. Sedangkan
menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai Kayuwangi adalah Rakai
Watuhumalang.
Dyah Balitung yang
diduga merupakan menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali
kekuasaan seluruh Jawa, bahkan sampai Bali. Mungkin karena kepahlawanannya
itu, ia dapat mewarisi takhta mertuanya.
Pemerintahan Balitung
diperkirakan berakhir karena terjadinya kudeta oleh Mpu Daksa yang
mengaku sebagai keturunan asli Sanjaya. Ia sendiri kemudian digantikan
oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak diketahui dengan pasti
apakah proses suksesi ini berjalan damai ataukah melalui kudeta pula.
Tulodhong akhirnya
tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat
sebagai pegawai pengadilan.
Teori van Bammelen
Menurut teori van
Bammelen, perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa
Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat.
Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah
barat daya sehingga terjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol
dan lempengan Pegunungan Menoreh. Letusan tersebut disertai gempa bumi dan
hujan material vulkanik berupa abu dan batu.
Istana Medang yang
diperkirakan kembali berada di Bhumi Mataram hancur. Tidak diketahui dengan
pasti apakah Dyah Wawa tewas dalam bencana alam tersebut ataukah
sudah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja selanjutnya yang
bertakhta di Jawa Timur bernama Mpu Sindok.
Mpu Sindok yang menjabat
sebagai Rakryan Mapatih Hino mendirikan istana baru di daerah Tamwlang.
Prasasti tertuanya berangka tahun 929. Dinasti yang berkuasa di Medang
periode Jawa Timur bukan lagi Sanjayawangsa, melainkan sebuah keluarga
baru bernama Isanawangsa, yang merujuk pada gelar abhiseka Mpu Sindok
yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.
Permusuhan dengan Sriwijaya
Selain menguasai
Medang, Wangsa Sailendra juga menguasai Kerajaan
Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya
Prasasti Ligor tahun 775 yang menyebut nama Maharaja
Wisnu dari Wangsa Sailendra sebagai penguasa Sriwijaya.
Hubungan senasib
antara Jawa dan Sumatra berubah menjadi permusuhan
ketika Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah Medang. Menurut
teori de Casparis, sekitar tahun 850–an, Rakai Pikatan berhasil
menyingkirkan seorang anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa putra Samaragrawira.
Balaputradewa kemudian
menjadi raja Sriwijaya di mana ia tetap menyimpan dendam terhadap Rakai
Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan
turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga
bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.
Rasa permusuhan Wangsa
Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa
Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa
Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah
Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh
pihak Mpu Sindok.
Peristiwa Mahapralaya
Mahapralaya adalah peristiwa
hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasarkan berita dalam prasasti
Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas
sehingga muncul dua versi pendapat. Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Medang
runtuh pada tahun 1006, sedangkan yang lainnya menyebut tahun 1016.
Raja terakhir Medang
adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari dinasti Song mencatat
telah beberapa kali Dharmawangsa mengirim pasukan untuk menggempur ibu
kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan
antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.
Pada tahun 1006 (atau
1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya,
istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan
sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.
Tiga tahun kemudian,
seorang pangeran berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil
membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu
bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu
Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan
nama Kerajaan Kahuripan.
Peninggalan sejarah
(Kiri) Avalokitesvara lengan-dua. Jawa
Tengah, abad ke-9/ke-10, tembaga, 12,0 x 7,5 cm.
(Tengah: Chundā lengan-empat, Jawa
Tengah, Wonosobo, Dataran Tinggi Dieng, abad ke-9/10, perunggu,
11 x 8 cm. (Kanan) Dewi Tantra lengan-empat (Chundā?), Jawa Tengah, Prambanan,
abad ke 10, perunggu, 15 x 7,5 cm. Terletak di Museum für Indische
Kunst, Berlin-Dahlem.
Selain meninggalkan
bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Medang juga membangun
banyak candi, baik itu yang
bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa
artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah;
menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi
Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi
Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi
Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja
yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun
oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB)
sebagai salah satu warisan budaya dunia.
Kepustakaan
·
Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah
Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
·
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
·
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965).
Yogyakarta: LKIS
·
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya.
Jakarta: Bhratara
·
Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta:
LKIS
Referensi
1. http://javaningrum.blogspot.co.id/2010/04/rakai-panamkaran-dyah-sankhara-sri.html
2. https://tioncivil.wordpress.com/2012/03/05/asal-usul-kerajaan-mataram-kuno/
3. http://saunggaluh.blogspot.co.id/2011/09/galuh-pakuan-pajajaran.html
4. http://exsperiencelife-andy.blogspot.co.id/2015/09/kerajaan-galuh-bagian-dari-kemaharajaan.html
5. http://tuturussangrakean.blogspot.com/2009/10/masa-sanjaya.html
6. https://herydotus.wordpress.com/2011/08/06/kerajaan-mataram-kuno-masa-dinasti-sanjaya/
Templat: Raja Medang
Lihat pula
·
Medang Kamulan
|
Kerajaan di Jawa
|
|
|
sebelum 600 M (Hindu-Buddha
pra-Mataram/Medang)
|
·
#Kendan #
·
Galuh #
·
Salakanagara #
·
Indraprahasta #
·
Tarumanagara #
·
Sunda-Galuh #
·
Kalingga #
·
Kanjuruhan
|
|
600-1500 (Hindu-Buddha-Islam)
|
·
Medang (Mataram Hindu)
#
·
Saunggalah #
·
Kahuripan #
·
Janggala #
·
Kadiri #
·
Singasari
#
·
Galunggung
#
·
Talaga Manggung
·
#Majapahit #
·
Sunda
#
·
Cirebon #
·
Kasepuhan
#
·
Kanoman #
·
Kacirebonan
#
·
Kaprabonan #
·
Pajajaran
#
·
Blambangan
|
|
1500-sekarang (Islam)
|
·
#Sumedang Larang
#
·
Demak
#
·
Kalinyamat
#
·
Pajang
#
·
Banten
#
·
Mataram Islam
#
·
Kartasura
#
·
Surakarta
#
·
Yogyakarta
#
·
Mangkunegaran
#
·
Paku Alam
|







No comments:
Post a Comment